ARTIKEL,OPINI COVID-19 Berdampak Pada Ekonomi,Kesehatan,dan Kemanusiaan

COVID-19 Berdampak Pada Ekonomi,Kesehatan,dan Kemanusiaan

Oleh : Emil Dei Rahim

Covid-19 atau Corona Virus Disease 2019 mungkin sudah tidak asing lagi terdengar nama wabah virus yang sangat menggemparkan dunia 3 bulan belakangan ini. Dari masyarakat perkotaan maupun masyarakat desa di pelosok negeri pun sudah banyak yang mengetahui apa itu virus Corona. Virus yang menyerang saluran pernafasan atau paru-paru yang sudah banyak memakan korban. Update terbaru kasus wabah virus corona per tanggal (16/04/20) sudah sebanyak 213 Negara yang terpapar virus ini dan sudah hampir 2 juta orang yang terkonfirmasi di seluruh dunia dan Indonesia sudah 5.516 yang terkonfirmasi positif corona virus disease 19 ini. Ini pertanda wabah virus ini bukan lagi hal yang harus di sepelekan tapi benar benar harus di atasi bersama. Melihat kondisi bertambah banyaknya kasus virus ini, ternyata mempunyai dampak yang begitu banyak. Tidak hanya dari sisi kesehatan.tetapi juga dari sisi ekonomi dan juga kemanusiaaan. Menurut pengamat setiap langkah penanganan Covid 19 ini pasti akan membawa dampak ekonomi yang cukup besar. Untuk itu pemerintah saat ini sudah banyak mengambil langkah langkah untuk memberantas virus ini agar negara Indonesia bisa berjalan dengan normal kembali.

            Menelisik dari sisi kesehatan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) merupakan virus yang menyerang saluran pernafasan dan paru-paru. Virus ini hampir sama dengan virus sebelumnya yang pernah ada yaitu MERS (Middle East Respiratory  Syndrome) dan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), virus ini juga menyerang saluran pernafasan atau paru-paru tetapi  terdapat perbedaan perbedaan. Meski virus ini berasal dari kelompok yang sama, yaitu coronavirus tetapi  masa inkubasi atau waktu yang di perlukan oleh kuman untuk berkembang biak di dalam tubuh mempunyai perbedaan, selain itu perbedaan ketiga penyakit ini juga dapat di lihat pada kecepatan penularannya serta pengobatannya.

            Pada gejala ringan, ketiga penyakit ini menyebabkan demam,batuk,nyeri tenggorokan,hidung tersumbat,lemas dll. Tetapi perbedaan pada Covid-19 adalah jarang disertai keluhan pilek dan keluhaan pencernaan. Jika semakin berat gejala nya menyerupai pneumonia yaitu kesulitan bernafas. Banyak informasi bahwa penularan virus ini melalui kontak hewan ke manusia tetapi ini sangat jarang terjadi, penularan biasanya melalui kontak manusia ke manusia ataupun benda yang terdapat virus ini dan menempel ke manusia. Maka dari itulah pemerintah mengambil kebijakan untuk pembatasan sosial berskala besar (PSBB) agar penularan virus ini tidak semakin meluas.

            Selain melakukan social distancing dan psyhical distancing ada beberapa cara untuk kita terhindar dari paparan virus ini, selalu menjaga kebersihan dan juga menjaga imun tubuh agar tetap sehat juga merupakan salah satu cara untuk terhindarnya dari virus ini, selalu mencuci tangan,makan makanan yang bergizi, dan selalu berolahraga adalah beberapa cara untuk kita selalu terhindar dari paparan virus.

            Semakin berkembang pesatnya virus covid-19 ini bukan hanya membawa masalah kesehatan masyarakat tetapi juga implikasi ekonomi yang sangat luas, dampak yang sangat dirasakan cukup besar ada tiga pihak. 1.) Bisnis 2.) UMKM 3.) Sektor Ekonomi informal dan rumah tangga. Dari apa yang telah dilakukan oleh pemerintah yaitu beberapa kebijakan,mulai dari social distancing,physical distancing bahkan memungkinkan untuk karantina wilayah jika situasinya semakin memburuk.

Social Distancing dan Phyisical Distancing membawa konsekuensi yang begitu terasa bagi roda perekonomian, roda ekonomi tetap berjalan tetapi akan sangat lambat dan jika roda ekonomi tetap berjalan akan berdampak pada meluasnya wabah ini semakin bertambah parah. Dampak yang paling terasa dari perekonomian yang mulai melambat pada sektor UMKM yang mulai menjerit karena anjuran untuk tidak berkumpul di keramaian. Tetapi jika masyarakat tidak juga mematuhi anjuran itu juga dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Dalam sisi ekonomi, UMKM mulai menjerit,barang tak terjual,produksi tak berjalan,dan kondisi finansial usaha semakin jelek dan yang paling mengkhawatirkan adalah sektor informal dan rumah tangga. Jika UKM dapat mensiasati bisnis melalui online dan menggunakan platform e-commerce, maka sektor informal (tukang gorengan,ojek online,warung kaki lima,dsb) menjadi paling menderita, karena ketidakmampuan mereka untuk mensiasati jalannya bisnis mereka. Rumah tangga pun terkena dampaknya khusus kelas menengah kebawah, Karena pemasukan berkurang drastis bahkan mengakibatkan mencari hutang sana sini.

Dari segi ekonomi makro dapat kita lihat juga, arus barang ekspor-impor luar negeri bahkan dalam negeri tersendat, nilai tukar juga melemah dan faktor panic buying yang mengakibatkan stock barang menipis di masyarakat mulai terjadi. Prediksi dari berbagai pengamat bahwasanya ekonomi akan hancur sudah sangat terlihat jelas, tidak hanya pada sektor informil,rumah tangga,umkm,bahkan usaha besar atau korporasi dan BUMN juga akan semakin tercekik. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 2% saja, berarti turun drastis 3,5% dari tahun lalu. Inflasi juga akan sangat jelas di depan mata karena produksi barang mulai tersendat, dan ketersediaan modal usaha juga makin sulit.

            Saat ini pemerintah baru saja membuat Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan.Perppu ini merupakan fondasi bagi pemerintah,bagi otoritas perbankan dan otoritas keuangan untuk melakukan langkah langkah dalam menjamin kesehatan masyarakat,menyelamatkan perekonomian nasional dan stabilitas sistem keuangan. Pemerintah menambah total tambahan belanja dan pembiyaan APBN untuk menangani Covid-19 ini sebanyak Rp. 405,1 Triliun. Total anggaran tersebut akan di alokasikan untuk belanja bidang kesehatan,perlindungan sosial,insentif perpajakan dan stimulus kredit usaha rakyat (KUR), dan pembiayaan Program Pemulihan Ekonomi Nasional.

Walaupun seperti itu kita bisa melihat bahwa seharusnya pemerintah mengambil langkah untuk fokus terhadap kesehatan,dengan resiko ekonomi akan jatuh. Tetapi jika pemerintah tetap melakukan pemberian stimulus dana ke beberapa sektor hanya kuat bertahan pada 4-6 bulan saja. Karena pada faktanya anggaran negara tidak kuat untuk tetap dan selalu menopang perekonomian dengan menggunakan dana stimulus tersebut. Perekonomian di Indonesia bisa collaps karena kurang cepatnya untuk mengatasi wabah ini.

Setelah membahas kedua aspek yang berdampak di karenakan adanya covid-19, saat ini yang terjadi di Indonesia adalah krisis kemanusiaan, yang di maksud krisis kemanusiaan adalah saat ini masyarakat sudah tidak memikirkan orang lain tetapi sudah terkungkung oleh egoisme pribadi.  Banyak sekali beredar berita di media sosial maupun media lainnya, warga menolak pemakaman dan mengucilkan keluarga yang terdampak virus ini, padahal dalam ilmu kesehatan virus akan mati jika sel inangnya juga mati atau tubuh seseorang yang terpapar juga mati,jadi tidak akan adalagi penyebaran virus pada seseorang yang sudah meninggal dan juga pada proses pembungkusan mayat sudah di lapis dengan berbagai lapisan anti air dan kedap udara sehingga tidak akan lagi penyebaran itu terjadi, bahkan keluarga yang sedang berstatus ODP (Orang dalam Pemantauan) ataupun PDP (Pasien Dalam Pengawasan) ikut di kucilkan oleh masyarakat

Sudah saatnya kita saling menjaga dan mendukung satu sama lain untuk menghindari krisis krisis yang sedang kita alami, Pemerintah dan masyarakat sudah seharusnya berkolaborasi untuk menangani pandemic covid 19 ini. Masyarakat saling bahu membahu menolong masyarakat yang kurang beruntung perekonomiannya dan juga ikut  mengedukasi kepada sesama, agar tidak terjadi penyebaran informasi informasi yang tidak bisa di pertanggungjawabkan kebenarannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *