Dua Puluh Delapan Tahun Kasus Marsinah Tak Terlupakan

Tanggal 8 Mei merupakan tanggal bersejarah di Indonesia. Tepat dua puluh delapan tahun lalu yaitu pada 8 Mei 1993 terjadi peristiwa memilukan pada sejarah penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Seorang perempuan bernama Marsinah yang merupakan aktivis buruh harus kehilangan nyawa demi menegakkan keadilan para buruh di Indonesia yang tidak mendapat keadilan. Hingga saat ini nama Marsinah masih menjadi perbincangan masyarakat Indonesia karna keberaniannya dalam menyuarakan tuntutan hak para pekerja untuk mendapat kesejahteraan.

Marsinah terlahir dari keluarga yang sederhana, ibunya bernama Sumini dan ayahnya bernama Mastin. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Marsinah lahir di Nganjuk tanggal 10 April 1956. Saat berusia tiga tahun, ibu marsinah meninggal dunia sehingga ia harus tinggal bersama neneknya. Marsinah hidup mandiri sejak kecil, ia berjualan makanan untuk membantu perekonomian neneknya.

Marsinah merupakan alumni SMA Muhammadiyah Kota Nganjuk. Ia menghabiskan masa SMAnya dengan mondok. Ia merupakan anak yang rajin dan pandai, bahkan sering mendapat prestasi di sekolah dengan mendapat peringkat tertinggi di kelasnya. Namun, marsinah tidak dapat melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya.

Kegagalan marsinah untuk melanjutkan kuliah tidak membuatnya patah semangat, dengan ilmunya Marsinah yakin dapat merubah keadaan hidupnya menjadi lebih baik. . Akhirnya marsinah memutuskan untuk bekerja di Kota untuk membantu mengatasi kondisi ekonomi keluarganya. Ia melamar pekerjaan di beberapa perusahaan yang ada di Mojokerto, Surabaya, dan Gresik. Hingga akhirnya Marsinah diterima di pabrik sepatu Batu yang berada di Surabaya pada tahun 1989. Namun setelah satu tahun, Marsinah memutuskan untuk pindah ke pabrik arloji Empat Putra Surya di Rungkut Industri. Ia menjadi aktivis dalam organisasi buruh Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) unit kerja PT. Catur Putra Surya.

Awal perjuangan Marsinah dimulai saat temannya diperlakukan tidak adil oleh atasannya. Pada pertengahan bulan april 1993, Gubernur Jawa Timur mengedarkan surat perintah untuk menaikkan gaji buruh sebesar 20%. Namun PT. Catur Putra Surya tidak merespon surat perintah tersebut karena khawatir akan menyebabkan kerugian pada perusahaan.

Hingga akhirnya pada tanggal 3 Mei 1993, buruh PT. Catur Putra Surya melakukan mogok kerja dan menuntut perusahaan agar menaikkan gaji buruh sesuai surat edaran dari Gubernur Jawa Timur. Pada saat yang bersamaan Marsinah memutuskan pergi ke Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (DEPNAKER) untuk mencari daftar upah pokok minimum regional yang akan dijadikan bukti tuntutan kenaikan gaji. Tanggal 4 Mei 1993 para buruh berunjuk rasa menuntut kenaikan upah dari Rp. 1.700 menjadi Rp. 2.250, namun usaha mereka dihadang oleh satpam.

Tanggal 5 Mei 1993, terdapat 13 buruh diminta menandatangani surat PHK di Kodim Sidoarjo karena dituduh sebagai dalang di balik aksi unjuk rasa dan mogok kerja di PT. Catur Putra Surya. Marsinah tidak terima dengan keputusan tersebut, kemudian Ia pergi ke Kodim Sidoarjo seorang diri. Sekitar jam 10 malam Marsinah masih terlihat, kemudian setelah itu Marsinah sudah tidak terlihat lagi dan dinyatakan hilang. Dan tiga hari kemudian pada tanggal 8 Mei 1993, Marsinah ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di Pinggir Hutan Jari Wilangan dengan tanda-tanda kekerasan dibagian tubuhnya. Hal itu didasarkan pada visum dari Rumah Sakit Umum di Nganjuk, yang menyatakan ditemukan luka memar bekas pukulan benda tajam pada leher dan tangannya. Terdapat bercak-bercak darah ditubuhnya, Marsinah diduga diperkosa sebelum dibunuh.

Pristiwa tersebut menjadi perbincangan di tanah air saat itu, masyarakat mendesak pemerintah untuk menyelidiki dan menghakimi pelaku kejahatan tersebut. Para aktivis pun membentuk Komite Solidaritas Untuk Marsinah (KSUM) sebagai bentuk empatinya kepada Marsinah serta memperjuangkan Perjuang Marsinah.

Sejak tahun 2007 para mahasiwa maupun buruh melakukan aksi kamisan untuk menolak lupa atas peristiwa yang dialami oleh Marsinah, perempuan pemberani yang memperjuangkan hak buruh. Para demonstran mengenakan baju hitam, menenteng poster-poster tuntutan dan memegang payung hitam sebagai simbol aksi kamisan. Kamisan tersebut bertujuan mengingatkan pemerintah untuk menuntaskan pelanggaran HAM yang ada di Indonesia yang belum diselesaikan termasuk peristiwa pembunuhan Marsinah. Namun, sampai saat ini Kasus Marsinah belum menemui titik terang.

Marsinah menjadi simbol perlawanan buruh atas ketidakadilan yang didapatkan para buruh di Indonesia. Ia menjadi perempuan inspirasi di Indonesia karena keberaniannya menentang ketidakadilan walaupun mengorbankan nyawanya sendiri. Kita hendaknya mencontoh Marsinah untuk selalu menegakkan HAM baik untuk diri sendiri maupun orang lain, dan dilarang untuk melanggar hak asasi orang lain.

Ditulis oleh : Anggun Puspitasari

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *