Mahasiswa Sebagai Pengawas Kebijakan Pemerintah

Mahasiswa, terdiri dari dua kata yaitu “Maha” berarti yang tertinggi dan “siswa” berarti pelajar. Dengan demikian, mahasiswa dapat dikatakan setingkat lebih tinggi dalam struktur pelajar yang dipandang masyarakat sebagai orang yang berintelektual. Artinya, mereka memiliki tingkat intelektual yang lebih baik dibanding tingkatan pelajar lainnya yaitu melalui  pengetahuan yang mereka raih di bangku perkuliahan karena mahasiswa ini bukan lagi seseorang yang masih dituntun dalam hal ilmu dan pelajaran tetapi mahasiswa ini lebih dominan terhadap kemandiriannya untuk lebih mendalami dan mengetahui luasnya cakrawala ilmu. Sebagai kaum intelektual di tengah-tengah masyarakat Indonesia, mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi secara aktif dan nyata.

Hal ini menjadikan mahasiswa memiliki peran yang sangat penting, diantaranya Mahasiswa menjadi agent of change, dimana mahasiswa sebagai pelopor kearah yang lebih baik, melalui pengetahuan, gagasan dan ide yang dimiliki mahasiswa. Khususnya mahasiswa ekonomi, kita harus terus berdiskusi terkait perkembangan ekonomi di lingkup masyarakat sehingga hasil diskusi kita akan berdampak baik pada masyarakat. Karena ilmu merupakan suatu amanah dan tanggung jawab yang harus diamalkan serta diimplikasikan. Melakukan perubahan tidak hanya dalam berpolitik, tetapi menciptakan suatu produk yang bermanfaat bagi sesama juga disebut perubahan, misalnya melalui start up. Kita sebagai mahasiswa harus melingkupi kekuatan fisik dan otak yang maksimal melalui kreatifitas, inovasi, keaktifannya dan  responsifitas.

Kedua, mahasiswa dituntut sebagai Agent of control, dimana kita sebagai mahasiswa adalah sebagai pengontrol sosial. Kita harus bisa melihat terlebih dahulu bagaimana fenomena maupun kebijakan  yang terjadi di lingkungan masyarakat. Karena tidak semua  kebijakan pemerintah selalu bijak, sehingga dibutuhkan tingkat kekritisan dan analisis yang tinggi serta mendalam dari para mahasiswa agar sesuai dengan yang diharapkan. Maka dari itu sangat diharapkan setiap ide dan gagasan yang keluar dari pikiran mereka merupakan ide yang benar-benar menjawab problematika masyarakat. Mahasiswa tidak boleh diam terhadap isu-isu yang mungkin sedikit janggal dan dapat merugikan masyarakat.

Ketiga, mahasiswa sebagai agent of movement, dimana mahasiswa sebagai motor penggerak dari semua perubaham yang diciptakan berdasarkan gagasan dan ide. Kita sebagai mahasiswa pergerakan bukan hanya mahasiswa kupu-kupu ataupun sekedar duduk saja dalam perkuliahannya, tetapi kita dituntut untuk bergerak dan berpikir. Yang menjadi poin plus dari mahasiswa dinilai dari keintelektualnya yang lebih dari masyarakat, terutama berkontribusi dalam lingkup organisasi dan lingkungan sekitar karena kita dianggap memiliki kemampuan yang lebih baik.

Keempat, mahasiswa sebagai Iron stock (Penerus bangsa). Mahasiswa adalah calon penerus bangsa. Untuk itu, mahasiswa harus mempunyai kualitas yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Kita saat ini dihadapkan dengan lingkungan yang serba digitalisasi mulai dari hal yang positif maupun negatif. Jadi, harapannya sebagai penerus bangsa diharapkan dapat lebih mengasah kemampuan dan skill agar dapat membawa perubahan yang lebih baik. Jangan sampai menjadi generasi yang biasa-biasa saja. Kita mahasiswa harus tampil dengan perubahan yang lebih baik dan cerah masa depannya. Sebelum merubah  masyarakat, kita harus mengubah diri kita masing-masing agar memiliki potensi ataupun kecerdasan yang dapat berguna bagi masyarakat.

Mahasiswa sebagai mitra kritis pemerintah, memiliki kesempatan besar untuk mengkritisi segala kebijakan pemerintah dengan ide-ide yang tepat. Mahasiswa dapat mengaudiensikan melalui gerakan digital. Mengkaji segala informasi sangatlah penting. Jadi, perbanyaklah membaca dan diskusi. Kalau ingin melakukan perubahan, jangan tunduk terhadap kenyataan, asalkan kau yakin di jalan yang benar maka lanjutkan –Gus Dur-. Refi Agustina

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *