Mati Terinjak Ekspektasi

Semua perihal kelakuanmu yang bahkan membuat minyak enggan menyatu dengan air

Pagi-mu hanya membuat sakit hati, tak berarti

Kau berbicara lantang dan berani bak suara air yang terjun dari muaranya, tak ada ragu dan takut sama sekali

Kusandarkan harapanku padamu dan kau berjanji di depanku

Namun apa yang terjadi?

Kau khianati aku, kau ingkari janjimu, kau hancurkan kepercayaanku padamu

Kau injak-injak semua kepasrahanku padamu dan kau cengengesan diatas penderitaanku

Peraturan yang kau buat hanyalah omong kosong, layaknya tong sampah berkarat yang bahkan pemungut sampah-pun tidak ingin lagi menggunakannya

Kau membuatku tak percaya lagi pada renjana

Rasanya ingin kubunuh diriku ini agar tak lagi melihatmu, agar tak lagi mendengarkan perkataan busukmu yang kau ulang lagi dan lagi

Tolong! Kau dengarkan aku, kau hargai keberadaanku

Tak ingatkah waktu kau mengemis kepadaku, kau memintaku untuk memilihmu

Tapi apa yang terjadi?

Kini kau hanya memikirkan perutmu

Layaknya hewan yang mengendus, kau makan semua kotoran, sampah, dan semua yang ada di depanmu tanpa sedikitpun memikirkan apakah aku sudah makan atau belum

Omonganmu sungguh tak mencerminkan dirimu

Kau sampah, ya kau benar-benar sampah dimataku

Sore pun tak ingin melihatmu

Diusirnya matahari dari peraduan yang akan digantikan oleh bulan

Lenyaplah kau dari hadapanku

Enyahlah kau dari tempat yang suci ini

Hidupmu hanya beban dan harus dimusnahkan

Aku hanya bisa mengadukan semua pada Ibu Pertiwi yang tengah terluka karenamu

Menggores kesadaran, menyayat perasaan

Pada setiap kata yang memuat pertanyaan, aku mencari kejayaan yang telah hilang

Pada ratapan panjang yang membuat dinding kecemasan, aku mengisahkan sakitku di kepasrahan yang begitu lapang

Penulis: Soya AN

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *