Meningkatnya Angka Pelecehan Selama Pandemi Covid-19: Budaya Patriarki yang Mengakar

Pandemi covid-19 yang menimpa negara Indonesia di tahun 2020 membawa banyak perubahan yang sangat signifikan. Dimulai dengan bekerja dari rumah (work from home) dan pembelajaran yang sekarang dilakukan dengan cara daring (dalam jaringan) atau online bahkan sampai anjuran beribadah dari rumah. Akibat adanya anjuran pemerintah ini membuat sebagian besar masyarakat kalangan menengah ke bawah mengalami penurunan pendapatan atau bahkan sampai harus kehilangan pekerjaannya.

Dampak dari anjuran pemerintah ini tidak hanya kepada ekonomi, pendidikan, dan sosial. Bahkan angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan pelecehan terhadap perempuan dan anak juga mengalami peningkatan. Banyak orang masih beranggapan bahwa hal seperti ini merupakan urusan internal sebuah keluarga sehingga membuat anggota keluarga yang mendapat perlakuan pelecehan atau KDRT dan masyarakat yang mengetahui enggan untuk melaporkan atau mencampuri urusan keluarga lain. Lingkup sosial yang dibatasi, penurunan pendapatan dalam ekonomi, tekanan sosial merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi meningkatnya angka pelecehan atau KDRT.

Pada penghujung tahun 2020 di bulan desember terdapat kasus pelecehan yang terjadi di desa tetangga penulis, hal itu menimpa seorang gadis cilik yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) mendapatkan tindakan pencabulan oleh seorang pria berusia 70 Tahun yang tidak lain adalah tetangganya. Sang anak mengadukan perbuatan tetangganya tersebut kepada neneknya dikarenakan sebelumnya mendapat ancaman dari pelaku untuk tidak boleh mengadukan perbuatan bejatnya kepada ibunya dengan mengatakan “jika kamu mengatakan hal itu nanti kamu akan masuk ke penjara”. Ungkap sang nenek.

Untuk sekarang kasus tersebut di bawa ke jalur hukum oleh kedua orang tua korban meski sebelumnya pelaku melakukan perlawanan dengan mengatakan penolakan dan mengatakan bahwa anaknya merupakan seorang aparat kepolisian, yang mana masih beranggapan yang berpangkat yang berkuasa. Tetap saja hal itu tidak dapat untuk membenarkan perbuatannya.

Dalam hal ini sangat jelas menggambarkan bahwa masih ada paham patriarki di dalam masyarakat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), patriarki memiliki makna perilaku yang mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu. Sejak kecil anak perempuan dikendalikan oleh ayah, saudara laki-laki, paman, atau walinya. Setelah dewasa perempuan dikendalikan oleh suaminya, dan jika berkarir dikendalikan oleh majikannya dan peraturan kerja yang partriarki, dan sebagai anggota masyarakat ia berada di bawah kontrol semua laki-laki. Sehingga pelaku beranggapan bahwa korban tidak akan mengadukan perbuatannya dikarenakan adanya ancaman yang diberikan. Terlebih dengan stigma yang mengatakan bahwa perempuan lebih lemah dari laki-laki, mudah merasa tertekan, ketakutan dan lain sebagainya.

Hal yang di khawatirkan dari adanya pelecehan ini akan membuat korban terganggu kesehatan psikologisnya menjadi pemurung, mengalami trauma, dan dikucilkan dari masyarakat atau kelompok sosial yang lain. Untuk itu orang tua dan keluarga harus mendampingi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan sehingga orang tua dapat memberikan rasa aman dan selalu memberikan support sistem yang baik.

Adanya sex education sangat diperlukan untuk melindungi anak dan perempuan, agar mereka dapat mengerti apa yang terjadi kepada diri mereka. Karena sebagian besar anak dan perempuan pernah menjadi korban pelecehan, dari yang paling sering ditemui adalah cat calling. Yang mana godaan seperti siulan-siulan atau sapaan “Hai, cantik” bahkan ada juga yang mengucapkan salam “Assalamu’alaikum” sebagai seorang muslim yang mempunyai kewajiban untuk menjawab salam, hal itu membuat ketidaknyamanan. Tetapi banyak masyarakat menganggap hal itu sebagai sebuah kebiasaan yang lumrah.

Referensi :
https://m.cnnindonesia.com/nasional/20201110123516-25-568018/kilas-balik-pandemi-covid-19-di-indonesia.

Kandedes, iin. 2020. Kekerasan terhadap anak di masa pandemi. Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender, 16 (1), p-ISSN: 1412-2324, e-ISSN: 2655-7428.

https://regional.kompas.com/read/2020/07/01/22102121/kasus-kekerasan-seksual-berbasis-online-meningkat-di-jateng-selama-pandemi.

KBBI (Kamus besar bahasa Indonesia)
Nurhayati, Eti. 2012. Psikologi perempuan dalam berbagai perspektif. Yogyakarta. Pustaka pelajar, ISBN: 978-602-229-032-2

Penulis: Sofiatul Mustagfiroh

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *