Pentingnya Moderasi Beragama Untuk Menghadapi Fenomena Agama Prasmanan

Moderat adalah sebuah kata sifat, yang merupakan turunan dari kata moderation, yang berarti tidak berlebih-lebihan atau berarti sedang. Kata moderasi sendiri juga dijelaskan dalam KBBI yang didefinisikan sebagai pengurangan kekerasan, atau penghindaran keekstreman. Kata moderasi sendiri jika digabungkan dengan kata beragama, menjadi moderasi beragama, istilah tersebut berarti merujuk pada sikap mengurangi kekerasan, atau menghindari keekstreman dalam praktik beragama.

Dalam kehidupan kegamaan sendiri saat tengah menghadapi tantangan dan perubahan yang sangat ekstrem, penyebabnya adalah dikarenakan dunia sekarang tengah memasuki era disrupsi, sehingga dalam kehidupan keagamaan pun kita bisa menyebut adanya disrupsi beragama.

Era disrupsi sendiri tidak bisa lepas dan selalu terkait dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi, yang tentu kita tau sekarang tengah memasuki revolusi industri 4.0. banyak sekali perubahan yang terjadi dikarenakan era disrupsi ini, seperti terjadinya perubahan radikal dalam semua aspek kehidupan, tak terkecuali bidang kehidupan keagamaan. Kemajuan pesat dibidang teknologi informasi, menunjukkan internet dapat mengubah pola perilaku beragama.

Mengapa perkembangan teknologi komunikasi dan informasi digital ini sedemikian berpengaruh terhadap perilaku sosial, termasuk perilaku beragama? Karena media sosial bersifat membangun jejaring, tidak memihak, interaktif melibatkan peran aktif manusia, dan bahkan dapat dimanipulasi sedemikian rupa. Kemudahan dalam mengakses internet yang tidak memiliki atauran baku ini layaknya pasar bebas, siapa saja dapat menuliskan informasi apapun lalu dipublikasikan dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat luas. Bahkan keberlimpahan informasi di internet telah menjadi media belajar yang kian digemari generasi millenial sekarang.

Perubahan preferensi sumber informasi keagamaan yang sekarang dapat diakses melalui internet justru memberikan ruang untuk menyebarkan konten-konten kebencian dengan mengatasnamakan agama. Bahkan konten-konten bermuatan pendidikan agama yang bersebaran di internet menjadikan jalan pintas bahkan referensi bagi kaum millenial zaman sekarang tanpa melakukan verifikasi benar atau tidak konten-konten tersebut. Banyak yang berniat baik dengan membuat konten yang baik, ada pula yang membuat konten dengan niat buruk seperti menjerumuskan.

Begitulah, perkembangan teknologi yang membuat bergantinya tempat belajar, yang semula kita belajar ilmu keagamaan melalui pesantren, ustadz, kyai, para ulama, dan otoritas agama lainnya, kini umat digital sudah ada “Prof. Dr. Kyai. H. Google”. Dengan begini umat digital menjadi terbiasa menemukan kebenarannya lewat internet tanpa adanya penjelasan dan pengayaan. Untuk menghadapi umat digital yang mempunyai karakteristik seperti ini, perspektif moderasi agama sangat diperlukan untuk dijadikan bingkai umat digital zaman sekarang, apalagi masyarakat Indonesia sangat plural dan multikultural.

Sebagai konsekuensi dari sangat mudahnya dan terbukanya akses informasi melalui internet, membuat munculnya fenomena-fenomena baru dalam konteks keagamaan. Salah satu fenomena menaraik, seperti munculnya fenomena agama prasmanan. Fenomena tersebut terinspirasi dari perilaku masyarakat dalam mengonsumsi menu makanan dengan cara mengambil / memilih sendiri menu yang dihidangkan pada pesta perkawinan atau pesta-pesta jenis lainnya. Biasanya disediakan beragam menu didalam pesta, dan setiap tamu yang hadir bebas untuk menentukan pilihan sesuai seleranya.

Perilaku seperti ini terjadi dalam praktik ilmu keagamaan. Dengan melalui searching dan googling orang dapat mengeksplor pengetahuan tentang keagamaan. Mereka lalu menseleksi, memformulasikan dan mengeksekusi sendiri menu-menu ilmu keagamaan yang tersajikan dengan bebas dan leluasa dalam internet. Proses pengambilan keputusan mengenai menu mana yang akan diambil benar-benar ada ditangan merekan sendiri. Inilah yang dimaksud dengan fenomena agama prasmanan, yang suka atau tidak suka sudah hadir dalam era disrupsi ini.

Banyak masyarakat luas yang mengakses tentang informasi ilmu keagamaan tanpa guru yang jelas. Mereka menjadi umat digital melalui Prof. Dr. Kyai H. Google. Cara seperti ini sangat berbahaya dalam membentuk karakter generasi milenial, dikarenakan dengan cara belajar ilmu keagamaan melalui Google, tanpa bimbingan guru, sangat berpotensi untuk terpapar terorisme.

Munculnya area baru yang berdampak pada bergesernya otoritas keagamaan yang juga di ikuti perkembangan teknologi yang semakin canggih, membuka peluang yang sangat lebar yang mana memungkinkan kelompok-kelompok berusaha memproduksi, mengakuisisi, dan mengontrol model keagamaan untuk ditawarkan kepada masyarakat awam.

Hal ini tidak dapat terhindarkan di era disrupsi ini. Kenyataannya bahwa fatwa tidak hanya diproduksi oleh lembaga keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah, akan tetapi juga oleh seorang pemimpin agama secara individual. Dengan menggunakan media sosial dan situs web, para pemimpin agama menjadi lebih mudah untuk menyebarkan pendapat mereka sendiri. Di era internet ini, orang sangat cepat dan mudah untuk saling berhubungan satu sama lain.

Dari latar kondisi ini, disinilah peran moderasi beragama untuk mengembangkan strategi komunikasi terhadap generasi milenial agar mereka terhindar dari dampak buruk era disrupsi ini. Karena dengan moderasi beragama niscaya kita kan terhindar dari sikap ekstrem berlebihan, dan sikap revolusioner dalam beragama. Sangat diperlukan langkah-langkah konkrit dari tokoh agama, budayawan, dan akademisi, untuk menjadi konten dan sajian yang lebih mudah dipahami oleh generasi muda milenial tanpa kehilangan bobot dan isinya.

Dengan mempimpin gerakan literasi keagamaan dikalangan milenial agar mereka melek agama ,yang bertujuan dalam rangka penguatan keberagamaan yang moderat. Agama perlu dikembalikan perannya sebagai pedoman panduan spiritualitas dan moral, yang mudah diakses untuk semua kalangan.

Karena sesungguhnya moderasi beragama merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan. Banyaknya fenomena-fenomena baru dalam konteks keagamaan yang terjadi, tetapi apabila kita terbingkai dalam ajaran moderasi beragama, kita dapat menolak ekstremisme dan liberalisme dalam beragama. Maka dengan cara inilah bisa menjadi kunci keseimbangan, terpeliharanya peradaban, dan terciptanya perdamaian. Umat bergama dapat memperlakukan orang lain secara terhormat, menerima perbedaan serta bisa hidup bersama dalam damai dan harmoni. Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, moderasi beragama bisa jadi bukan suatu pilihan, melainkan suatu keharusan.

Sumber
Kementrian Agama RI. 2019. Modetasi Beragama. Jakarta: badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI.
Prof. Dr. H. Musahadi, M. Ag. 2020. Fikih Prasmanan (Mencermati Disrupsi di Bidang Hukum Islam). Semarang: UIN Walisongo.

Oleh : Junhattan Prastama Putra

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *