Perempuan dalam Bingkai Sejarah & Islam

Melihat dari kacamata sejarah diakui atau tidak perempuan selalu diposisikan di kelas dua (dinomorduakan). Hal tersebut bisa dibuktikan dengan sejarah kelamnya perempuan-perempuan pra-Islam datang. Menurut Quraish Shihab dalam peradaban Cina dan Hindu kehidupan perempuan tidak lebih baik dari peradaban Yunani dan Roma yang artinya bahwa hak hidup seorang perempuan yang bersuami harus berakhir pada saat kematian suaminya. Artinya bahwa istri pun harus dibakar hidup-hidup pada saat mayat suami dibakar. Kemudian diceritakan dalam peradaban Roma, perempuan yang belum menikah sepenuhnya berada dibawah kekuasaan ayahnya, begitu pula pasca menikah maka perempuan dibawah kekuasaan suaminya. Kekuasaan yang dimaksud adalah mencakup kewenangan menjual, mengusir, menganiaya dan membunuh si perempuan. Hukum Roma tersebut mencabut semua hak-hak sipil kaum perempuan.

Dalam kacamata sejarah pra-Islam di Arab atau sering kita sebut zaman Jahiliyah di Arab. Pada masa itu perempuan bahkan bukan hanya dinomorduakan akan tetapi dianggap sebagai aib, sehingga menjadi wajar jika keberadaan perempuan harus dimusnahkan atau dalam kebiasaan bangsa Arab zaman Jahiliyah adalah kebiasaan membunuh perempuan. Prof. Quraish Shihab mengemukakan 3 alasan terjadinya pembunuhan perempuan zaman Jahiliyah yakni orang tua pada zaman itu takut jatuh miskin apabila menananggung biaya hidup anak perempuan. Selanjutnya orang tua pada zama jahiliyah takut atau khawatir anak-anak perempuannya berzina. Alasan terakhir karena sering terjadi konflik atau peperangan antar suku sehingga orang tua khawatir anaknya menjadi tawanan musuh dalam peperangan. Sehingga diakui atau tidak, secara tidak langsung stereotipe kepada kaum perempuan sudah ada sejak zaman pra-Islam, dimana peradaban manusia waktu itu menganggap bahwa perempuan adalah manusia lemah, aib dan wajar jika dijadikan sebagai objek laki-laki saja.

Kita lihat perempuan pada sejarah bangsa kita sendiri, Indonesia. Sebelum tampilnya tokoh-tokoh perempuan dalam memperjuangkan keadilan dalam meperoleh hak yang sama seperti R.A.Kartini, Cut Nyak Dien dsb. Perempuan pribumi pada masa penjajahan bisa dikatakan tidak mempunyai kesempatan dalam menempuh pendidikan formal (bangku sekolah), pendidikan bisa jadi dianggap hal yang terlarang untuk perempuan jadi mungkin saja jika pembodohan perempuan sudah menjadi keharusan pada masa itu. Bukan hanya persoalan tidak memperoleh hak yang sama dalam mengenyam pendidikan akan tetapi pada masa penjajahan kolonial perempuan pribumi mengalami diskriminasi status sosial, dimana perempuan selalu dianggap lemah sehingga status sosialnya selalu dianggap berkedudukan dibawah laki-laki. Kemudian dalam kontruk sosial adat Jawa peranan perempuan hanya berputar dalam persoalan sumur, dapur dan kasur atau mungkin masak,macak dan manak. Nah dalam peranannya yang terlalu dianggap marjinal sehingga kemudian persoalan pendidikan dianggap tidak cocok bagi perempuan pada waktu itu.

Islam & Gender, pada hakikatnya Islam memberikan porsi yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan sosial. Terbuka kesempatan bagi perempuan untuk meniti karir sebagaimana laki-laki, juga diberi kebebasan untuk mengembangkan diri. Sehingga dalam Islam kaum perempuan tidak dilarang untuk bekerja dan mengembangkan potensi seluas-luasnya. Prinsip keadilan sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Kesetaraan persoalan hak-hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan diporsikan dengan tanggung jawab diantara masing-masing keduanya. Artinya bahwa Islam tidak mengindentikkan atau menganggap sama persis antara laki-laki dan perempuan melainkan Islam menggariskan prinsip kesetaraan antara laki-laki dan perempuandalam beberapa aspek yang dibutuhkan tanpa mendiskriminasi salah satu pihak. Maka kemudian kata “kesetaraan” (equality) ini bisa diasumsikan mencakup pengertian keadilan dan tidak adanya diskriminasi diantara apapun.
Allah SWT berfirman: “Bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu” (QS:al-Nisa`:32).

Q.S An-Nisa ayat 32 bisa dimaknai bahwa Allah memperbolehkan laki-laki dan perempuan dalam memperoleh hak yang sama dalam berusaha seperti mencari ilmu dan bekerja. Kemudian ayat tersebut menunjukkan bahwa dalam status sosialnya sebagai manusia, laki-laki dan perempuan sesungguhnya memiliki derajat yang sama dimata Tuhan.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran Islam membawa cahaya harapan bagi masa depan perempuan diseluruh muka bumi. Dalam sejarah Islam pada masa Rasulullah kaum perempuan dipandang sebagai sosok manusia yang dinamis, sopan dan terpelihara akhlaknya. Selain itu, figur kemandirian politik perempuan pun disebut dan diceritakan dalam al-Qur’an yaitu figur Ratu Bilqis yang merupakan simbol pemimpin perempuan demokratis yang memiliki kerajaan super power.

Kemudian dalam kajian studi penelitian “Kesetaraan Gender Dalam Studi Prespektif Sejarah Islam” dalam hasil penelitiannya disebutkan bahwa pada masa Nabi tercatat 1.232 perempuan yang menerima dan meriwayatkan hadist. Ummul Mukminin Aisyah r.a tercatat sebagai salah seorang dari 7 bendaharawan hadist, yang mana beliau meriwayatkan 2.210 hadist. Kemudian istri Nabi, Khadijah binti Khuwailid merupakan bisnis women yang sukses pada zaman itu. Perempuan lainnya yakni Nusaibah binti Ka’ab tercatat dalam sejarah Islam sebagai wanita yang memanggul senjata melindungi Rasulullah pada saat perang Uhud. Dan masih banyak peran perempuan yang menunjukkan eksistensi dan kontribusi perempuan di ruang-ruang publik pasca datangnya Islam yang dibawa oleh Rasulullah.

Sehingga bisa dipahami bahwa peran laki-laki dan perempuan yang terjadi dalam sejarah hingga sampai hari ini merupakan sebuah kontruksi sosial. Atau sesuatu yang memang dibangun oleh sosial, sesuatu yang kemudian bisa dipertukarkan karena kemajuan peradan dan nalar manusia. Dulu yang mana laki-laki selalu di nomorsatukan dan diutamakan sedang perempuan dinomorduakan hingga didiskrimansi kemudian tidak relevan hari ini. Hari ini pemahaman tentang “Manusia memiliki status sosial,hak dan kesempatan yang setara baik laki-laki maupun perempuan” yang merupakan konsep kesetaraan gender yang dibawa oleh Islam sudah diaminkan oleh seluruh insan laki-laki maupun perempuan di dunia. Yang kemudian sangat tidak tepat jika perempuan hari ini masih ragu dalam berkontribusi di ruang-ruang publik, karena pada dasarnya Islam menghargai dan menjunjung tinggi hak dan kewajiban diantara keduaya sebagai Insan Manusia tanpa adanya diskriminasi apapun. Sehingga sebagai manusia seharusnya saling menghargai hak masing-masing dan tidak saling mendiskrimasi apapun dan siapapun.

Penulis: Melina Alfiatun Rohmaniah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *