Polemik Kekerasan Seksual Dalam Lingkup Akademik oleh Kalangan Kaum Intelektual

Pelecehan seksual menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan kasus yang terkait dengan perlakuan seseorang terhadap orang lain terutama lawan jenis, dengan kekerasan seks, seperti perkosaan dan tindakan pelampiasan nafsu. Kasus kekerasan seksual
yang disebabkan oleh factor kesenjangan relasi kuasa dan ketimpangan gender yang menempatkan perempuan sebagai sasaran utama dalam tindak kekeresan tersebut. Masyarakat secara kultural masih tertanam dengan adat patriarki. Dimana laki-laki ditempatkan sebagai
pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan property. Hal tersebut membelenggu peran perempuan dalam kirpahnya di ranah lebih luas. Sehingga, tidak jarang adanya budaya patriarki mendorong terjadinya perbuatan yang tidak menyenangkan seperti pelecehan seksual.

Dalam pembahasan ini, akan menyoroti mengenai kasus pelecehan seksual yang justru terjadi di kalangan kaum intelektual, pelecehan seksual dalam lingkup orang-orang terpelajar, yaitu dilingkungan perguruan tinggi. Lingkungan kampus yang sewajarnyanya menjadi tempat untuk belajar kehidupan dan kemanusiaan justru menjadi tempat dimana nilai-nilai kemanusiaan direnggut dan dilanggar. Lingkungan kampus yang didominasi oleh kalangan kaum intelektual dengan panjangnya gelar yang disandang ternyata tidak berbanding lurus dengan perilaku menghargai nilai dan martabat terkhusus perempuan sebagai sesama manusia. Faktor relasi kuasa yang seringkali dijumpai di kampus, korban kekerasan seksual merasa terpaksa, tidak berani menolak atau hanya diam ketika mengalami pelecehan seksual lantaran pelaku biasanya adalah seseorang yang memiliki kedudukan dan kuasa di kampus, entah itu sebagai seorang dosen, staf
ataupun pemimpin organisasi tertentu di kampus. Korban kekerasan seksual di kampus merasa takut, lantaran status sebagai seorang mahasiswa yang tentu saja akan masih berhubungan dengan pelaku, adanya ancaman serta diskriminasi nilai ataupun kesulitan untuk lulus menjadi salah satu faktor korban tidak berani melaporkan tindakan pelaku. Selain itu, ketakutan mendapat
stigma negatif dari masyarakat atau disalahkan oleh berbagai pihak dan dianggap melebihlebihkan menjadi pertimbangan korban untuk memilih diam. Padahal korban punya hak untuk mendapat keadilan dan mendapatkan pemulihan.

Seperti dilansir dalam salah satu website berita: tempo.co. Beberapa korban yang berani bersuara untuk mengungkapkan kasus kekerasan seksual menjadi pintu terkuaknya kasus kekerasan yang terjadi dikampus akhir tahun 2021 ini. Diantaranya, di Universitas Riau pada
awal November 2021, akun Instagram milik Korps Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Riau (Komahi Unri) mengunggah video berisi pengakuan mahasiswi yang dilecehkan oleh Dekan FISIP. Saat bimbingan skripsi, pelaku diduga memaksa mencium pipi
dan kening korban. Bahkan sempat meminta mencium bibir, namun korban melawan. Pelaku kini sudah ditetapkan sebagai tersangka. Kemudian di Universitas Sriwijaya, Dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsri diduga melecehkan beberapa
mahasiswinya. Kasus ini bermula dari aduan anonim seorang mahasiswi di media sosial Instagram Unsrifess, pada 26 September 2021. Setelah mendapat identitas mahasiswi, BEM Unsri memfasilitasi pendampingan dan sudah direspons dekan fakultasnya. Kemudian pihak
BEM Unsri kembali menerima 2 laporan baru kasus dugaan pelecehan terhadap mahasiswi dari fakultas yang berbeda, namun dengan pelaku yang sama, pada 6 November 2021. Pada 6 Desember 2021, petugas Ditreskrimum Polda Sumsel menahan dosen tersebut usai menjalani pemeriksaan. Dosen berinisial AR juga ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pelecehan seksual terhadap mahasiswinya. Lalu di Universitas Negeri Jakarta, seorang dosen di UNJ berinisial DA diduga melakukan pelecehan seksual dengan mengirimkan chat bernada merayu atau sexting ke beberapa mahasiswi. Kabar tersebut sebelumnya viral di media sosial setelah seorang warganet mengirimkan tangkapan layar percakapannya dengan dosen tersebut.Kasus pelecehan seksual dengan kurang nya bukti yang dilakukan oleh orang-orang terpelajar, yang memiliki jabatan dan juga memiliki koneksi membuat korban yang sebenarnya mengalami pelecehan seksual makin takut untuk melapor pada pihak-pihak hukum maupun media yang seharusnya dapat membantu korban pelecehan seksual. Untuk itu, perlu adanya tindakan tegas dari pihak kampus. Seperti, membangun system layanan tempat aduan bagi korban/penyitas dengan 3 prinsip; perlindungan kesetaraan dan kerahasiaan. Kemudian membuat regilasi penanganan kasus dan sanksi yang jelas bagi pelaku. membentuk tim investigasi independen dan imparsial yang melibatkan seluruh elemen kampus. menyediakan pendampingan bagi korban yang melapor.menyediakan jasa psikolog atau psikiater, penanganan kesehatan fisik dan keamanan jika korban diancam. ( Aprilia Nur Rahmawati )

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *