Proyeksi Pemerintah dalam Pertumbuhan Ekonomi

Pada awal tahun 2020 sampai saat ini pandemi Covid-19 masih pada level diatas rata-rata. Dimana seiring berjalannya waktu, kasus yang terkena wabah ini semakin meningkat. Awalnya pada bulan-bulan awal tahun 2021, penyebaran wabah ini sudah mulai sedikit berkurang. Namun di awal bulan Juni, kasusnya semakin menambah daerah-daerah menjadi zona merah.

Dengan adanya permasalahan tersebut, pemerintah memberlakukan kembali program untuk mencegah lonjakan wabah ini yaitu PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) yang dimulai dari tanggal 22 Juni hingga 5 Juli 2021. Kebijakan pemerintah tersebut sebenarnya mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Dalam pemberlakuan kebijakan ini masih belum bisa mengubah daya beli pada tahun-tahun sebelumnya dimana hal itu menjadi faktor dalam pertumbuhan ekonomi tersebut.

Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) mengatakan, bahwa akan sulit bagi pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang sudah direncanakan untuk kuartal II 2021. Pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 diproyeksikan akan berada di kisaran 7%. CORE pada April lalu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi berada kisaran 4-5%.

Yusuf juga menjelaskan bahwa basis perhitungan kuartal II 2020 sebesar -5,32% secara tahunan dan merupakan kontraksi terdalam berdampak pada level positif. Pertumbuhan belanja pemerintah ikut serta dalam mendorong realisasi pertumbuhan positif.

“Dalam konteks ini, pertumbuhan konsumsi masyarakat akan dipengaruhi faktor seasonal Ramadan dan Lebaran. Umumnya kedua faktor ini mendorong meningkatnya permintaan barang dan jasa dari masyarakat,” katanya saat dihubungi, Rabu (19/5/2021).

Walaupun untuk menuju angka 7% tersebut masih sulit, pemerintah bakal fokus untuk menggenjot konsumsi rumah tangga, lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) atau pembentuk modal tetap bruto (PMTB).

Penulis: Siti Khorirotul Mufidah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *