RESENSI : Namaku Mata Hariku

RIVIEW

Judul                : Namaku Mata Hari
Penulis            : Remy Sylado
Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2010
Tebal               :560 halaman
ISBN                : 978-979-22-6281-0

Blurb :
Mata Hari merasa sakit hati, sebab suaminya Rudolph MacLeod perwira ketentaraan Belanda di Indonesia gemar melacur, sehingga menyebabkan kedua anaknya tertular sifilis: yang pertama Norman John lahir di Amsterdam dan mati di Batavia dan yang kedua Jeanne Louisa lahir di Batavia dan mungkin mati di Banda, Maluku.

Frustasinya pada keadaan itu berangsur memperkuat jiwanya untuk memilih menjadi vridenker–kosakata bahasa Belanda yang harafiahnya berarti “pemikir bebas”–tapi dengannya memiliki hubungan yang dekat dengan praktik ateisme.

Rasa sakit batin itu pula yang mendorongnya membalas dendam kepada sang suami, dengan nekat membuka celana dan mengangkang untuk senang-senang dengan sejumlah lelaki–terutama dari kalangan perwira dan pejabat tinggi negara–sampai akhirnya dia menjadi sundal kelas tinggi, penari erotik, juga pengamat andal sebagai mata-mata.

Riview :
Dengan riset yang sangat medalam, Remy Sylado mampu mendeskripsikan, bagaimana perspektif ketika perempuan melacur, dianggap tidak baik tetapi lelaki dipandang lumrah ketika gemar melacur. Terjadi pertentangan antara kepercayaan dengan hasrat. Tidak hanya itu Remy Sylado, juga medeskripsikan tentang perempuan boleh meraih mimpinya-mimpinya setinggi mungkin, Mata Hari sebagai penari erotik.

Skandal Perang Dunia I, melalui sosok Mata Hari sebagai “dialog bantal” yang secara tidak langsung menjelaskan bahwa lelaki pasti tergoda oleh wanita. Hal itu membuatnya mengerti keadaan politik kala itu.

Latar yang berpindah-pindah mulai Hindia Belanda, Prancis, Beland, Berlin, Jerman, Italia, Belgia, Inggris, Monaco, Turki, Mesir, dan Spanyol membuat saya menjadi mengerti beberapa bahasa kebangsaan untuk bisa dipelajari. Tentu saja buku ini memiliki gaya terjemahan yang khas, membuat saya perlu berulang kali membaca untuk memahami maksud yang disampaikan dalam suatu adegan atau babnya.

Alur cerita yang lambat membuat saya sedikit jenuh apalagi mengingat ketebalan buku ini, tetapi Remy Sylado berhasil membuat rasa penasaran saya muncul. Sehingga, mau tak mau dengan menyingkirkan kantuk, saya habiskan bab demi bab Mata Hari untuk mengetahui hasil yang memuaskan. Tidak usah ditanya bagaimana apiknya Remy Sylado menyuguhkan akhir cerita, karena saya pun menyukainya terutama satu bagian yaitu ” …. bahwa tindakan apapun yang dilakukan manusia dalam rangka mempertahankan diri untuk hidup, semuanya bisa menjadi benar melalui reka pembenaran untuk membuatnya sebagai wujud kebenaran.” Pada bab 4, halaman 28.

Saya rekomendasikan untuk orang dewasa sebab menyiratkan nilai moral dan banyak sudut pandang, Mata Hari layak saya beri nilai 4 dari 5.

Resentator : Sofiatul Mustagfiroh

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *