Seksisme dan Kesetaraan Gender dalam Organisasi

Apa sih yang dimaksud dengan seksisme itu?

Seksisme adalah prasangka dan anggapan bahwa salah satu jenis kelamin lebih superior atau lebih baik daripada jenis kelamin yang lain. Seksisme dapat menjangkiti laki-laki dan perempuan. Namun, sering kali perempuan adalah korban seksisme di kehidupan bermasyarakat. Misalnya, melalui anggapan bahwa laki-laki lebih cocok menjadi pemimpin atau ketua, sementara perempuan tidak.

Seksisme dapat dikatakan sebagai salah satu akar masalah ketidaksetaraan gender karena berkaitan dengan pemahaman masyarakat yang tidak setara dalam melihat posisi perempuan dan laki-laki. Pemahaman-pemahaman inilah yang kemudian terwujud dalam bentuk ucapan, perlakuan dan aturan yang diskriminatif yang cenderung merugikan pihak perempuan. Salah satu dampak yang bisa kita lihat dikehidupan sehari-hari adalah masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan. Survei terbaru yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) tentang pengalaman hidup perempuan menunjukkan satu dari tiga orang perempuan di Indonesia mengalami kekerasan.

Cara paling sederhana yang mungkin bisa kita lakukan untuk mengubah pemahaman seksisme dalam masyarakat umum adalah merespon dengan cepat ketika seksisme itu terjadi, misalnya memberi tahu bahwa ucapan atau perilaku itu tidak pantas untuk dilakukan. Respon sederhana ini meskipun wujudnya kecil tapi sedikit demi sedikit diharapkan dapat membantu merubah perspektif masyarakat menjadi lebih adil gender.

Lalu apa yang dimaksud dengan kesetaraan gender itu?

Kesetaraan gender merupakan kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional.

Dalam memahami kajian kesetaraan gender, seseorang harus mengetahui terlebih dahulu perbedaan antara gender dengan seks (jenis kelamin). Kurangnya pemahaman tentang pengertian gender menjadi salah satu penyebab dalam pertentangan menerima suatu analisis gender di suatu persoalan ketidakadilan sosial.

Contoh Kesetaraan Gender dalam Organisasi di Kampus UNS :

Universitas Sebelas Maret memiliki total keseluruhan organisasi kemahasiswaan sejumlah 83 Ormawa, di tingkat universitas, fakultas, maupun di tingkat program studi. Baik itu badan legislatif maupun badan eksekutif. Dari hasil temuan lapangan, ditemukan bahwa dari masing-masing struktur organisasi tersebut yang menduduki jabatan sebagai ketua umum atau selaku pemimpin organisasi adalah seorang laki-laki. Sedangkan peran perempuan rata-rata terletak pada posisi sekretaris dan bendahara umum. Peran seorang perempuan masih terkesan minim dalam menduduki jabatan-jabatan penting di dalam organisasi kampus. Selain itu, jabatan-jabatan penting lebih banyak didominasi oleh laki-laki. Dilihat dari kaca mata gender, hal ini masih terbilang belum memenuhi syarat adil gender.

Penulis: Ibtisamah Dita

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *